Kisah Nyata, Pedihnya Punya Suami Pemarah, Ini Pesan untuk Para Wanita..

Pernikahan hanya bertahan 16 bulan

Perjalan menuju pernikahan yang mulus membuat ia merasa yakin atas pilihannya. Namun ternyata, dugaannya tersebut salah, awal pernikahan semua berubah 180 derajat.

Membangun dan mempertahankan keutuhan rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Tak heran banyak yang menyarankan agar setiap pasangan mengenali lebih dalam sosok yang akan menjadi pendamping hidupnya.


Perangai seseorang bisa benar-benar berbeda setelah menikah dan hidup bersama. Hal ini sejalan dengan yang dirasakan oleh seorang perempuan yang dibagikan dalam unggahan akun @QueenofBarbar.

Pencerita mengungkapkan bahwa pernikahannya hanya bertahan 16 bulan saja.

Kisah pilu ini dikirimkan oleh seroang perempuan berusia 28 tahun, berinisial A yang saat ini sedang menjalani proses perceraian dengan suaminya N (29).

A sebenarnya sudah mengenal N sejak SMP, namun mereka baru ketemu lagi setelah dewasa dan mulai dekat pada 2018.

Setelah empat bulan merasa cocok tanpa melalui proses pacaran, N melamar A dan akhirnya menikah di pengujung tahun.

Sebulan pertama, mereka hidup bahagia dan harmonis selayaknya pasangan yang baru menikah. Mereka tinggal bersama orang tua N.

Mulanya A merasa kurang nyaman jika harus tinggal bersama mertua, tetapi ia patuh dengan permintaan suami.

Selang dua bulan A mulai melihat sosok N sebagai sosok yang berbeda jauh. N menjadi pemarah dan sangat temperamental. Perkara kecil saja bisa memicu
keributan besar.

Tak hanya suaminya, A juga merasa mertuanya berlaku kasar dengannya. Namun sekasar apapun ucapan suami maupun mertuanya, A tidak pernah membantah dan berusaha tetap patuh.

Konflik puncak terjadi saat A sedang mengandung pada Juni 2019. A berusaha sedikit manja dan meminta perhatian dari N, namun suaminya tak menanggapinya.

Mereka pun sempat berselisih perihal memeriksakan kandungan. A ingin periksa di bidan, sedang N inginnya di puskesmas saja. Penyebabnya adalah biaya periksa ke bidan yang mahal, yakni 300 ribu.

A tahu bahwa N adalah orang yang berkecukupan meski ia tak diperbolehkan ikut campur masalah keuangan. A tidak diberikan kepercayaan dan bahkan A juga pernah diusir ketika N sedang marah yang membabi buta.

Karena merasa tidak mendapatkan hak-hak dari suaminya, A memutuskan untuk menceraikan N. Sampai saat ini N tidak ada itikad baik untuk datang ke rumah orang tua A dan menjemputnya kembali.

Ia berkesimpulan, suaminya itu belum siap secara mental untuk menikah dan ia menyesal tak mengenal lebih jauh sifat asli N sebelum menikah.

Terakhir, A menyampaikan pesan penting untuk para wanita. Dia mewanti-wanti agar menikah jika sudah siap dan jangan terburu-buru hanya karena desakan orang tua.

Ia juga menyarankan agar lebih baik tinggal di rumah kontrakan dan tidak berkumpul bersama orang tua. Dia juga mengingatkan untuk mengenal lebih dalam pasangan serta berani keluar dari hubungan toxic.